Ini Alasan Presiden Jokowi Harus Menaikkan Harga BBM


       Neraca perdagangan Indonesia selama delapan bulan pertama 2018 defisit sebesar US$4,09 miliar. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, Indonesia mencatat surplus sebesar US$9,07 miliar, tertinggi selama pemerintahan Presiden Joko Widodo. Defisit pada periode Januari-Agustus 2018 itu juga merupakan yang pertama bagi pemerintahan Jokowi yang sudah berjalan empat tahun ini.
       Penyebab terbesar defisit tersebut adalah lonjakan defisit perdagangan minyak dan hasil minyak yang mencapai US$13,2 miliar. Jumlah ini melonjak 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, surplus dari neraca perdagangan gas hanya naik 21 persen menjadi US$4,86 miliar. Walhasil, neraca perdagangan migas defisit mencapai US$8,4 miliar, tertinggi dalam empat tahun terakhir.

       Pilihan bagi Presiden Jokowi tidak banyak, salah satunya adalah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan harga BBM paling tidak bisa mengurangi konsumsi BBM, dan pada gilirannya akan mengurangi impor.


Sumber Data :
-
Share on Social Media :


Data Statistik Lainnya


Sepanjang Tahun 2018 Indeks Bursa Efek Indonesia Turun 6,47 Persen

Indeks Harga Saham Gabungan Bursa Efek Indonesia sepanjang tahun 2018 (Januari-September) turun 411,05 poin (6,47 persen).


September 2018, Tingkat Deflasi Sebesar 0,18 Persen

Deflasi terjadi karena adanya penurunan harga beberapa indeks kelompok pengeluaran


Subsidi Habis, Jatah Masih Kurang

Subsidi rumah masyarakat berpenghasilan rendah terus naik


Jemaah Umrah Nomor Dua

Jemaah umrah Indonesia sebagai yang terbanyak kedua di dunia.


Bursa Saham Cina Mengalami Penurunan Terbesar

Bursa saham Cina mengalami penurunan terbesar yaitu 15,74 persen


Gula Nasional : Produksi Turun, Impor Melambung

Untuk memenuhi kebutuhan, pemerintah kembali mengimpor gula mentah


Harga Minyak Mentah Dunia Mengalami Kenaikan Siginifikan

Sepanjang tahun 2018, harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan.